Wall St berakhir turun karena data inflasi lebih kuat dari perkiraan

Wall St berakhir turun karena data inflasi lebih kuat dari perkiraan

New York (ANTARA) – Wall Street lebih rendah pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah inflasi produsen AS untuk November datang lebih tinggi dari yang diperkirakan dan investor menunggu potensi kenaikan suku bunga 50 basis poin oleh Federal Reserve AS di pertemuan kebijakan minggu depan.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 305,02 poin atau 0,9 persen, menjadi menetap di 33.476,46 poin. Indeks S&P 500 tergerus 29,13 poin atau 0,73 persen, menjadi berakhir di 3.934,38 poin. Indeks Komposit Nasdaq tergelincir 77,38 poin atau 0,70 persen, menjadi ditutup di 11.004,62 poin.

Untuk minggu ini, S&P 500 turun 3,4 persen, Dow kehilangan 2,8 persen dan Nasdaq turun 4,0 persen

Dari 11 indeks sektor utama S&P 500, 10 sektor berakhir di zona merah, dipimpin lebih rendah oleh sektor energi yang merosot 2,33 persen, diikuti oleh penurunan 1,28 persen pada sektor perawatan kesehatan.

Indeks sektor energi mencatat penurunan sesi ketujuh berturut-turut, penurunan beruntun terpanjang sejak Desember 2018, karena harga minyak tampaknya akan turun mingguan karena kekhawatiran resesi.

Harga produsen AS naik sedikit lebih kuat dari yang diperkirakan pada November di tengah lonjakan biaya jasa-jasa, tetapi trennya moderat, dengan inflasi tahunan di gerbang pabrik membukukan kenaikan terkecil dalam 1,5 tahun, data menunjukkan.

“Data hari ini menunjukkan bahwa inflasi turun, tetapi tetap bertahan dan lebih kuat dari yang diperkirakan kebanyakan orang,” kata Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise Financial di Troy, Michigan. Namun, pada Desember, sentimen konsumen membaik, sementara ekspektasi inflasi turun ke level terendah dalam 15 bulan, survei University of Michigan menunjukkan.

Perdagangan berjangka menunjukkan peluang 77 persen Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin minggu depan, dengan peluang 23 persen untuk kenaikan 75 basis poin, dengan peluang tersebut sedikit berubah setelah data ekonomi Jumat (9/12/2022).

Data harga konsumen untuk November, yang akan dirilis Selasa (13/12/2022), akan memberikan petunjuk baru tentang rencana pengetatan moneter bank sentral.

Indeks-indeks utama Wall Street telah jatuh minggu ini setelah membukukan dua kenaikan mingguan berturut-turut. Yang sangat membebani investor adalah kekhawatiran potensi resesi tahun depan karena perpanjangan kenaikan suku bunga bank sentral.

Saham-saham AS mengakhiri penurunan baru-baru ini pada Kamis (8/12/2022) setelah data menunjukkan klaim pengangguran awal naik moderat minggu lalu.

Saham Lululemon Athletica Inc anjlok hampir 13 persen setelah pembuat pakaian atletik Kanada itu memperkirakan pendapatan dan laba kuartal liburan yang lebih rendah dari perkiraan. Netflix Inc naik 3,1 persen setelah Wells Fargo meningkatkan peringkat raksasa video streaming menjadi overweight dari equal weight.

Broadcom Inc melonjak 2,6 persen setelah pembuat chip tersebut memperkirakan pendapatan kuartal saat ini di atas estimasi Wall Street.

Boeing Co naik 0,3 persen setelah Reuters melaporkan pembuat pesawat itu berencana untuk mengumumkan kesepakatan dengan United Airlines untuk pesanan 787 Dreamliner minggu depan.

Volume perdagangan bursa AS relatif ringan, dengan 9,9 miliar saham berpindah tangan, dibandingkan dengan rata-rata 10,9 miliar saham selama 20 sesi sebelumnya.

Baca juga: Wall St ditutup menguat, S&P 500 dan Nasdaq setop penurunan beruntun

Baca juga: Wall Street jatuh, Indeks Dow Jones anjlok 482 poin pasar khawatir Fed

Baca juga: Wall St ditutup jatuh, indeks S&P bukukan penurunan keempat beruntun

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber: www.antaranews.com

Related posts